Sabtu, 19 April 2014

Mengapa Malware Doyan Mampir di Android?


Tak diragukan lagi bahwa popularitas Android telah membuat platform mobile besutan Google itu jadi target favorit penjahat cyber. Sebagai sistem operasi (OS) mobile terpopuler saat ini, Android telah menjadi sasaran utama para penjahat siber (hacker).

Laporan terbaru dari firma keamanan Kaspersky mengungkap temuan yang lebih mencengangkan, yaitu sebanyak 99,9 persen malware baru yang muncul pada kuartal pertama 2013 dirancang untuk "berkeliaran" di perangkat Android.

Seperti dikutip dari Mashable, kebanyakan dari malware tersebut termasuk kategori virus trojan. Jenis trojan yang paling banyak ditemukan adalah SMS trojan (yang mencuri uang dengan mengirim pesan ke nomor premium) bertanggung jawab atas 63,6 persen serangan.

Kaspersky juga melaporkan bahwa jumlah malware mobile meningkat drastis pada awal tahun ini. Selama tiga bulan pertama 2013 saja, jumlah malware mobile sudah menyamai setengah dari jumlah keseluruhan yang tercatat sepanjang 2012.

Di luar dunia gadget mobile, tren metode injeksi malware bergeser ke arah penggunaan tautan berbahaya yang akan menginfeksi komputer pengguna apabila diklik. Sebanyak 91 persen malware dikirim dengan cara ini.

Dalam hal negara asal malware, Amerika Serikat menempati urutan pertama dengan 25,1 persen, diikuti Rusia dan Belanda, yang masing-masing mencatat 19,2 persen dan 14,4 persen. 


Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Juniper Networks, sekitar 92 persen program jahat (malware) mobile yang berhasil dideteksi secara spesifik ditargetkan kepada OS buatan Google ini.

Selain karena tingginya jumlah perangkat yang beredar, ada satu alasan lain mengapa penjahat siber gemar menyerang Android. Ternyata, masih banyak pengguna Android ternyata belum meng-update OS ke versi yang terbaru. Inilah alasan Android begitu digemari dihampiri malware.

Bulan ini saja, masih menurut Juniper, baru ada sekitar 4 persen pengguna yang menggunakan OS versi terbaru. Sisanya masih menggunakan OS lama, seperti Ice Cream Sandwich dan Gingerbread.

Google biasanya mempersenjatai OS terbaru dengan sistem keamanan yang lebih canggih. Perusahaan raksasa internet tersebut juga banyak menutup celah keamanan yang ditemukan di versi sebelumnya. Nah, tanpa menggunakan OS versi terbaru, maka pengguna Android lawas lebih rentan terkena serangan.

Meskipun begitu, bukan berarti OS lain 100 persen aman. Dikutip dari Cnet, Rabu (26/6/2013), Juniper memperingatkan OS lain pun bisa dieksploitasi, termasuk iOS buatan Apple.

"Secara teori, eksploitasi untuk iOS telah didemonstrasikan, begitu juga dengan metode aplikasi jahat menyusup ke iOS App Store. Namun, penjahat siber telah menghindari produk Apple sebagai dukungan terhadap "padang rumput hijau" yang ditawarkan Android," tulis Juniper.

Mayoritas serangan malware mobile terjadi via SMS Trojan, yang "merayu" korbannya untuk mengirimkan pesan teks ke nomor yang sudah ditetapkan si penjahat. Sekitar 48 persen serangan terjadi melalui SMS semacam ini, 29 persen melalui install palsu, dan 19 persen berasal dari Trojan Spy malware.


Aplikasi yang paling banyak ditiru adalah Google Play, Skype, Adobe Flash, dan Angry Birds.

Lebih lanjut, Juniper menjelaskan bahwa jumlah ancaman malware mobile di tahun 2013 meningkat tajam, jika dibandingkan tahun lalu. Malware mobile tumbuh 614 persen dari Maret 2012 ke Maret 2013. Persentase tersebut berarti, ada 276.259 aplikasi berbahaya yang ditemukan pada kurun waktu 1 tahun tersebut.

Pada tahun 2012, peningkatan serangan berbahaya hanya meningkat 155 persen dari tahun 2011.

Sumber: http://tekno.kompas.com/, Selasa, 20 Agustus 2013, 11.27 WIB.