Jumat, 25 April 2014

29 April 2014 : Indonesia Bakal Disapa Gerhana Matahari.


Setelah gerhana Bulan menyapa pada Selasa (15/4/2014), Indonesia akan disapa gerhana Matahari. Kapan? Akhir bulan nanti, pada 29 April 2014.

Kalau warga yang beruntung menyaksikan gerhana Bulan adalah warga di Indonesia timur, untuk gerhana Matahari ini, warga yang beruntung bisa menyaksikannya adalah warga di wilayah selatan Indonesia.

Astronom amatir, Ma'rufin Sudibyo, ketika dihubungi Kompas.com, Senin (14/4/2014), mengatakan, ada 60 kabupaten/kota yang masuk wilayah gerhana dalam enam provinsi.


Dengan demikian, wilayah itulah yang bisa menyaksikan gerhana Matahari. Bentuk gerhana Matahari yang bisa disaksikan sendiri adalah gerhana Matahari sebagian.

Ma'rufin mengungkapkan, enam provinsi tersebut adalah Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. 

Berdasarkan prediksi Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), periode gerhana Matahari akan terjadi antara pukul 10.52 WIB hingga 15.14 WIB.

Namun, gerhana sendiri tak akan terlihat selama itu. Ma'rufin mengatakan, gerhana akan terlihat sangat singkat. Ma'rufin mengatakan, prediksi waktu persis gerhana bisa tampak dari wilayah Indonesia kini tengah diolah. 


Tempat terbaik untuk mengamati gerhana Matahari adalah wilayah utara Antartika. Meski demikian, bukan gerhana Matahari total yang akan terjadi, melainkan gerhana Matahari cincin.


Diagram terjadinya gerhana Matahari cincin. Jarak antara Matahari dan Bumi relatif jauh sehingga umbra tidak mencapai Bumi. Akibatnya, terjadi gerhana Matahari cincin di wilayah perpanjangan umbra (antumbra).

Gerhana Matahari cincin terjadi ketika Bulan berada di antara Matahari dan Bumi. Namun, jarak antara Matahari dan Bumi terlalu jauh. Karena jarak yang terlalu jauh, bayang-bayang inti Bulan tak jatuh langsung ke Bumi, tetapi di satu titik antara Bulan dan Bumi.

Bila bayang-bayang inti Bulan jatuh ke Bumi, yang terjadi adalah gerhana Matahari total.  

Penulis & Editor: Yunanto Wiji Utomo
Sumber : http://sains.kompas.com/, Selasa, 15 April 2014, 21:07 WIB.