Minggu, 13 April 2014

Mengungkap Sisi Gelap Kehidupan Caisar Aditya Putra, “Si Goyang Caesar”.


Melihat judul di atas, anda mungkin menerka saya akan mengkisahkan tentang keburukan si Raja Goyang Caesar, judul tersebut mendeskrepsikan tentang "sisi gelap" kehidupan dalam arti suka-duka kehidupan pribadi beliau yang mungkin jarang diketahui publik. 

Ya, di televisi, Si Caisar memang selalu nampak ceria, riang gembira dengan ajakan "Yuk Keep Smile!", namun tahukah anda kecapekan, padatnya schedule harian yang ia lakukan yang padat, sehingga hari-harinya masih tetap "Smile"?


Hari masih pagi. Namun wajah ceria yang biasanya tampil di televisi sambil berjoget-joget itu tampak kuyu. Caisar Aditya Putra, atau yang lebih dikenal sebagai “Si Goyang Caesar” seperti layu. Suaranya serak. Berkali-kali ia bersin.

Kelelahan mungkin penyebabnya. Maklum, baru hari Minggu lalu ia pulang dari Lampung. Sebuah koper ukuran besar bahkan belum dibongkar di ruang tamu rumahnya. Di Lampung, ia menghelat pernikahan sederhana bersama istri barunya, Indadari Mindrayanti.

Tanpa istirahat, Caisar langsung disibukkan jadwal pekerjaan yang menumpuk. Program acara regulernya di televisi, Show Imah dan Yuk Keep Smile tak bisa ditinggal. Belum lagi syuting tambahan untuk program lain.

Untuk dua program yang membesarkan namanya itulah, pria 25 tahun ini  selalu berusaha konsisten. Saat dikunjungi VIVAnews di rumahnya, kawasan Cibubur, Jakarta Timur, Kamis, 10 April 2014 ia sudah rapi sejak pukul 9 kurang. 

Ia mengenakan celana cokelat muda dan baju koko abu-abu. Tas selempang cokelat tua tersampir di bahunya. Hanya alas kakinya yang masih sandal jepit. “Kita ke Cipinang dulu ya,” ujarnya. Pukul 10.30, ia syuting Islam Itu Indah.

Caisar menjadi salah satu bintang tamu. Usai itu, pukul 15.30 ia sudah harus siap di studio stasiun televisi swasta yang terletak di kawasan Mampang, Jakarta Selatan. Dua program acara regulernya menanti.

Sibuk. Itulah yang dirasakan Caisar saat ini. Keluar rumah pukul 9 pagi, ia bisa baru kembali tengah malam. Padahal setahun lalu, ia bisa menganggur seharian. Hidup Caisar memang ibarat roda yang berputar sangat cepat.


Dari tukang ojek


Tahun lalu, ia masih bukan siapa-siapa. Lulus SMA, Caisar tak bisa melanjutkan kuliah karena kurang biaya. Lama menganggur, ia akhirnya berinisiatif mencari kerja. “Saya ngojek,” katanya tanpa malu-malu. Bungsu dari lima bersaudara itu mangkal di dekat rumahnya, Pekayon, Bekasi.

Caisar memilih menjadi tukang ojek, lantaran ada sepeda motor menganggur di rumahnya. Daripada merepotkan orang tua, kata Caisar, ia pun memanfaatkannya. Hasilnya memang tak besar. Sehari hanya Rp40 ribu.

“Paling saya antar dari tempat ojek ke depan gang saja,” ujarnya menambahkan. Namun, uang itu sudah cukup untuk jajan sehari-hari. Meskipun untuk itu Caisar harus menanggung malu. Sebab, banyak warga yang mengenalnya.

“Kalau ketemu paling bilang, ‘Oh Caisar lu sekarang ngojek?’,” ucapnya menirukan. Ia selalu menjawab dengan jujur. Dirinya butuh uang. Caisar yang sebelumnya sekadar tukang nongkrong pun berubah menjadi tukang ojek.

Hanya dua atau tiga bulan profesi itu dilakoninya. Pria kelahiran 29 Agustus 1989 itu kemudian diperkenalkan pada pekerjaan baru oleh seorang kerabat. Ia setuju saja. Caisar pun beralih menjadi asisten artis.

Yang pertama ditanganinya: Yadi Sembako. “Kerja pertama di Taman Safari. Ngelapin keringatnya Bang Yadi, ambilin barang-barangnya, siapin bajunya,” tutur Caisar. Setelah itu, beberapa kali ia berpindah artis. Selain Yadi, Caisar pernah menangani Budi Anduk dan Bopak (lihat bagian 3 wawancara Caisar: “Saya Sempat Jadi Tukang Ojek”).

Menjadi asisten, ia harus rela dianggap “rendah”. Ia pernah dijadikan sasaran kemarahan, dibentak-bentak. Namun ia menyadari, semua tak tanpa sebab. Tak ada amarah yang dimasukkannya dalam hati. Caisar memilih menjadikan keteledorannya sebagai pelajaran.

Roda kemudian berputar. Dari Yadi, Caisar mengenal dunia panggung. Pekerjaannya kini tak lagi menjadi asisten semata. Ia juga berperan sebagai penonton tambahan pada program acara di mana Yadi terlibat. Caisar bertepuk tangan, membanyol, juga berjoget.


Ia kemudian dilirik tim kreatif. Ia mulai diberi tempat di atas panggung. Mulanya sekadar dijadikan hiburan sampingan untuk membuka dan menutup acara. Kelamaan, ia punya program acara sendiri yang menjadikannya aktor utama. Hingga kini, acara itu dipertahankan lantaran share yang begitu tinggi.

Mulai pertengahan tahun 2013 hingga kini merupakan masa jaya bagi Caisar Aditya Putra. Awalnya gerak tubuhnya menjadi “jualan” utama sebuah program sahur di televisi swasta. Diiringi lagu Buka Dikit Joss, goyang itu bertambah seru. Tak butuh waktu lama sampai akhirnya melejit populer.

Caisar mendadak jadi artis. Gerakannya bahkan dinamai “Goyang Caesar”. Yang mulanya hanya gerak tubuh spontan mengikuti ketukan musik, "Goyang Caesar" akhirnya dipatenkan menjadi milik pria 25 tahun itu seorang. Hanya bermodal goyang, namanya membahana.

Ia dikontrak eksklusif oleh televisi yang membesarkannya. Setelah program sahurnya  usai, Caisar diberi acara khusus yang menonjolkan karakter kocaknya. Ia juga menjadi bintang tamu di mana-mana. 


Tetap membumi

Sejak itu, dunianya berubah. Nama Caisar makin melejit. Kondisi ekonominya membaik. Ia sudah dikontrak eksklusif sebuah televisi swasta. Ia kini dapat membanggakan orang tua. Gaji pertama pun ia serahkan pada mereka.


Bersama goyang hebohnya, makin banyak orang mengenal Caisar. Di YouTube, penonton goyangnya mencapai jutaan. Kini, ia tak lagi dicibir sebagai tukang ojek. Setiap yang bertemu dengannya justru meminta foto bersama. Namun, Caisar tetaplah yang dulu. Sikapnya tetap membumi.

Setiap ada yang mendekat, baik itu anak-anak maupun orang tua, semua ia layani tanpa keberatan. Itu terbukti saat Caisar menunggu giliran syuting Islam Itu Indah di Sekolah Bahasa Kepolisian Republik Indonesia, Kamis.

Baru turun dari mobil, Caisar langsung dikerubuti polisi wanita. Mereka meminta foto bersama. Ada yang untuk pribadi, ada pula yang beralasan untuk anak mereka yang menggandrungi "Goyang Caesar." Meski baru datang, Caisar langsung melayani satu per satu.

Selesai dua segmen, giliran para bocah yang mengintip ruang tunggu Caisar. Malu-malu mereka menyapa, “Om Caisar, boleh salim sama foto bareng?”. Caisar langsung memutus wawancara dan mempersilakan mereka.

Satu per satu, bocah-bocah itu berbaris untuk menyalami Caisar. Mereka lalu berpose untuk difoto bersama. Melihat “kesuksesan” kawan-kawannya, rombongan bocah lain menyusul. Sama seperti sebelumnya, mereka juga bersalaman dan berfoto bersama.

Mereka tampak puas, karena di setiap foto terpampang wajah ramah Caisar. Sesekali ia memasang pose konyol. Yang jelas, ia takkan menolak. Rupanya, itu “amanah” dari sang ayah. “Sesukses apapun, kalau ada yang minta foto bareng jangan pernah ditolak,” ayah Caisar berpesan.

Pada VIVAnews, Caisar bersikap serupa. Ia mempersilakan kami duduk di jok depan mobil, sementara ia memilih di tengah. Ia memang menjaga sikapnya tetap membumi. Sebab, Caisar sadar ia datang dari bawah. “Nggak boleh songong, roda terus berputar,” katanya.

Ia juga mengaku tak lupa pada kawan-kawannya dari masa lalu. Dengan sesama tukang ojek tempatnya mangkal dulu, Caisar masih kerap meluangkan waktu berkumpul. Meski baru pulang, jika ada yang menggedor pintu rumahnya untuk berfoto bersama ia pun tetap melayani.

Keseharian Caisar juga tetap apa adanya. Sedikit-sedikit, ia membanyol. Di tengah syuting Islam Itu Indah misalnya, ia membuat peserta tausiyah terbahak-bahak karena mendadak bergulingan di karpet. Suatu kali, ia tiba-tiba bertepuk tangan, mengundang tawa. Celotehannya juga meramaikan suasana.


Menjaring bidadari


Kepolosan dan ketulusan Caisar itulah yang memikat hati istri barunya, Indadari. Keduanya baru bertemu Oktober 2013, saat popularitas Caisar mencapai puncak. Indadari ingin bertemu lantaran menganggap Caisar mirip adiknya.

Kebetulan, ia juga pelaku kabaret hijab. Kelucuan Caisar mengusik perhatiannya. Ia lantas menemui Caisar di studio televisi tempatnya bekerja. Setelah berbincang sebentar, Indadari meninggalkan kartu nama. Saat itu, sahabat-sahabatnya sudah mulai menggoda.

“Tapi saya nggak mau,” ungkapnya sambil menerawang. Namun ternyata, Tuhan berkata lain. Sejak Caisar meneleponnya sehari setelah bertemu, ia justru merasa nyambung. Tak cuma lucu, Indadari juga menilai Caisar baik hati yang tak dibuat-dibuat.

Keduanya pun makin dekat. Komunikasi berjalan lancar, baik lewat telepon maupun pesan singkat. Indadari sengaja tak ingin berpacaran, sebab ia menjunjung tinggi hukum agama. Bersentuhan tangan saja ia tak berani.

Karena itu, sejak awal Caisar menyampaikan niat Indadari sudah menegaskan, ia ingin menjalin hubungan untuk sebuah pernikahan. Caisar menuruti. Sebab dari awal bertemu ia sudah mengagumi wanita yang dianggapnya bidadari itu.

“Wanita ini subhanallah, cantik dan solehah,” ucapnya.

Sayang, hubungan mereka tak langsung mulus. Kedua keluarga saling tak menyetujui. Ayah Indadari menginginkan putrinya menikah dengan ustad, bukan selebriti. Apalagi, ia pernah gagal membina rumah tangga dengan seorang pemain peran.

Sebaliknya, ayah Caisar agak memandang sebelah mata status Indadari sebagai janda beranak satu. Apalagi, jarak usia dengan putranya cukup jauh. Indadari lebih tua 6 tahun.

Namun, keduanya saling berjuang demi cinta. Caisar memberanikan diri datang ke Lampung bertemu ayah Indadari. Sedang Indadari, harus tahan mental menghadapi sikap ayah kekasihnya yang tak ramah. Perlahan, kedua keluarga pun luluh.

Caisar lantas diminta datang bersama keluarga ke Lampung. “Orang kan biasanya lamaran, ijab, baru resepsi. Ini saya lamaran langsung ijab kabul, hari itu juga,” ceritanya sambil tertawa.

Selain “merayu” keluarga Indadari, Caisar juga berhasil merebut hati Nokia Nebula Putri Kawakibi, putri dari pernikahan sebelumnya. Ia sering mengantar jemput bocah 6 tahun itu ke sekolah. Setiap ada waktu senggang, ia juga mengajak Indadari bersama putrinya berlibur atau menonton bioskop.

Sampai-sampai, Nokia sendiri yang meminta Caisar menjadi ayah barunya. “Itu nilai plusnya juga. Sesibuk-sibuknya masih ada waktu untuk keluarga. Itu yang mahal, yang susah dicari dari seorang laki-laki sibuk,” ucap Indadari sambil tersenyum.


Selalu mesra

Kini, ada yang selalu menemani Caisar ke manapun pergi. Ada yang menyiapkannya makanan, pakaian, dan melayani dengan kasih sayang. Saat syuting Islam Itu Indah Kamis lalu, Caisar diminta menjadi bintang tamu bersama istrinya. “Ya selama bisa menemani, ikut saja,” kata Indadari.

Setelah menyiapkan perbekalan, termasuk sekotak sarapan dan sepasang sepatu untuk Caisar, Indadari masuk mobil Ertiga hitam bersama suaminya. Di perjalanan, Caisar tak henti-henti batuk dan bersin. Ia juga berkali-kali menggosok hidung dengan keras.

Indadari sendiri selalu sibuk dengan telepon selulernya. Jika tidak menerima telepon, ia yang melakukan panggilan. Ke keluarganya di Lampung, maupun pihak katering. Maklum, dalam sebulan ia harus menyiapkan resepsi pernikahannya di Jakarta.

“Rencananya 17 Mei, di dekat rumah. Cuma nyebar 500 undangan, nggak banyak. Tempatnya juga nggak luas,” ia menuturkan di sela-sela menunggu sambungan telepon. Setelah tersambung, dengan semangat ia menyampaikan konsep dan bernegosiasi soal harga.

Di kursinya, Caisar tampak tenang. Ia mengaku memang tak ikut campur soal urusan pernikahan. Semua diserahkan pada sang istri. Sebagai sosok yang juga sibuk, ia hanya terima jadi.

Setelah Indadari tak lagi sibuk menelepon, Caisar mengajak istrinya makan bekal yang dibawa dari rumah. Nasi, ayam goreng, dan sayur kangkung. Sesendok demi sesendok, Indadari menyuapinya.

“Minta masakin sih enggak, tapi minta disuapin iya,” canda wanita berhijab itu. Acara suap-menyuap itu pun diselingi canda romantis. Caisar menggoda istrinya, sampai Indadari tertawa terbahak-bahak. Sebagai pengantin yang baru seminggu menikah, wajar keduanya terlihat sangat mesra.

Kemesraan itu juga terlihat di lokasi syuting. Caisar seakan tak bisa jauh dari istrinya. Berpindah dari satu set ke set lain, Indadari selalu digandeng. Jika bukan tangannya digenggam, pinggangnya dipeluk. Sesekali, mereka bercanda mesra.

“Kan sudah halal. Suami istri itu harus tampil mesra ya, justru heran kalau ada yang cuek-cuekan,” tutur Indadari. Ia tampak begitu bangga mendampingi Caisar. Sebab, ia tahu betul perjuangan suaminya dari nol. Indadari sangat menghargai kerja keras Caisar.

“Pasti lebih menghargai nikmat yang diraih. Bertanggung jawab, pekerja keras. Kasarnya, saya nggak akan mati kelaparan lah,” katanya lagi, sambil tersenyum.

Usai syuting Islam Itu Indah, Caisar dan istrinya langsung berpindah ke studio di Mampang untuk program berikutnya. Mereka sedikit terburu-buru karena waktu siaran langsung tinggal hitungan menit. Meski begitu, kemesraan tetap tak lepas.

Di mobil, Caisar memilih tidur. Kepalanya ia tempatkan di pangkuan sang istri. Sebelum akhirnya ia mendengkur kelelahan, keduanya masih bercanda dengan romantis. Maklum, mereka tak sempat berbulan madu. Rencananya, itu baru dilakukan Mei mendatang, usai resepsi pernikahan.

Perjalanan hari itu pun berakhir setelah Caisar sampai di studio. Ia dan Indadari berpisah. Caisar langsung syuting, sedang Indadari dijemput sopir untuk pulang ke Cibubur. “Kasihan anak sendirian. Nanti malam juga ada arisan,” ujarnya sebelum pamit.


Caisar sendiri, beberapa menit kemudian sudah tampak di layar kaca. Busananya berganti menjadi seragam sekuriti dengan dasi kupu-kupu besar warna merah. Ia siap menghibur dengan joget dan celetukan konyol. Wajahnya yang tadi kuyu, disetel menjadi sumringah demi dedikasi pada pekerjaan. Dan, “Goyang Caesar” pun membuat penonton tertawa lepas. 


Penulis:
Sumber : http://sorot.news.viva.co.id/.